GINOKRITIK DALAM PERHIMPUNAN GUNAWAN BAGI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN KARYA KHATIJAH TERUNG
DOI:
https://doi.org/10.25134/0s9hzy37Kata Kunci:
feminis melayu, ginokritik, sastra klasikAbstrak
Khatijah atau lebih dikenal Khatijah Terung adalah salah satu penulis perempuan dalam tradisi sastra Melayu klasik Riau Lingga. Sebagai salah satu anggota kerajaan karena dinikahi oleh cucu Raja Ali Haji, hidupnya dikelilingi oleh tradisi sastra yang baik. Namun, namanya tidak diketahui dalam sejarah sastra Melayu klasik. Dengan menggunakan perspektif sastra feminis ginokririk, penelitian ini mengkaji eksistensi Khatijah Terung, khususnya dalam menulis Perhimpunan Gunawan bagi Laki-Laki dan Perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perhimpunan Gunawan bagi Laki-Laki dan Perempuan ditulis oleh Khatijah Terung untuk memberikan pemahaman kepada perempuan, para istri khususnya, bahwa kebahagiaan rumah tangga juga berada pada kuasa perempuan. Oleh karena itu para perempuan diajarkan untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melayani suaminya. Bukan hanya memberi kepuasan, tetapi juga mendapatkan kebahagiaan. Meskipun karya ini erotika, Khatijah Terung mengemas dalam bentuk pantun dan syair serta ditambahkan narasi. Hal ini membuat Khatijah Terung menjadi perempuan Melayu pertama pada awal abad ke 20 yang menyatakan secara terus terang tentang apa yang boleh mereka lakukan untuk membuat laki-laki atau suami merasa terangsang dan menyayangi mereka. Walau bagaimanapun, karya semacam ini luar biasa dan sangat jarang ditulis oleh perempuan.
Unduhan
Referensi
Andaya, B.W. (1977). From Rome to Tokyo: The Search for Anticolonial Allies by The Rulers of Riau 1899-1914. Indonesia, 24: 123-156.
Anggraeni, N.D. (2018). Proses Kreatif Raja Aisyah Sulaiman, Sastrawan Perempuan Feminis Melayu Zaman Peralihan. Diksi, 26: 77-87.
Anoegrajekti, N. (2019). Metodologi Penelitian Sastra dan Budaya: Karya Sastra dan Pergulatan Budaya. Prosiding dalam Seminar Nasional Pekan Chairil Anwar, Jember: 27 Juni 2019. Hal. 57-80.
Gomo, A. S. (2020). Development of Characters of Islands Community
Through The Folklore of Panglima Hitam and The King
of Tidung as Local Activities of Tidung Island. Prosiding Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Hal. 373-382.
Ming, D. C. (1999). Raja Aisyah Sulaiman, Pengarang Ulung Melayu. Bangi: Universitas Kebangsaan Malaysia.
Moi, T. (2008). I Am Not a Woman Writer: About Women, Literature and Feminist Theory Today. Sage Publication, Vol. 9 (3), 258-271.
Rahman, J. dkk. (2010). Dermaga Sastra Indonesia; Kepengarangan Tanjungpinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A. Manan. Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang bekerja sama dengan Penerbit Komodo Books.
Rani, S. (2013). Elaine Showalter’s Feminist Criticism In The Wilderness: A Critique. An International Refereed e-Journal of Literary Explorations, 1, 1-5.
Wellek, R. & Warren, A. (1993). Teori Kesusastraan. (Diterjemahkan oleh Melani Budiyanto). Jakarta: Gramedia.
Winstedt, R.O. 1977. A History of Classical Malay Literature. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
Wiyatmi. (November 2015). Menggugat Kuasa Patriarki Melalui Sastra Feminis. Makalah disajikan dalam Seminar Bahasa, Sastra, dan Kekuasaan, di Universitas Negeri Yogyakarta.
