ETHNOLINGUISTIC STUDY OF THE FORM AND MEANING NAMING PETILASAN AT GOVERNMENT TIME IN BLITAR REGENCY
DOI:
https://doi.org/10.25134/6ggv5w40Keywords:
form, ethnolinguistic, Blitar Regency, meaning, government timeAbstract
Penamaan seringkali menjadi tempat menyimpan sejarah dan makna kultural bagi masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna penamaan petilasan pada masa kerajaan di Kabupaten Blitar dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi kasus dengan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini diperoleh dari 2 informan, yaitu Bapak Handoko (44 tahun, Kepala Desa Serang Kabupaten Blitar) dan Ibu Sunarmi (61 tahun, juru kunci Candi Mleri). Data penelitian berupa tuturan informan yang berkaitan dengan fokus permasalahan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka, wawancara, rekam, dan catat. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengklasifikasi, menginterpretasi, mendeskripsikan, dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penamaan petilasan pada masa kerajaan di Kabupaten Blitar terdapat dua jenis bentuk satuan bahasa yaitu, berupa (1) frasa nomina modifikatif simpleks dan (2) frasa nomina modifikatif kompleks. Pada frasa nomina modifikatif simpleks ditemukan frasa yang berstruktur nomina dan nomina, nomina dan verba, serta nomina dan adjektiva. Sementara itu, pada frasa nomina modifikatif kompleks ditemukan frasa berstruktur kata dan frasa serta frasa dan frasa. Makna penamaan petilasan pada masa kerajaan di Kabupaten Blitar terdiri atas makna leksikal dan makna kultural. Pada makna leksikal digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu mengacu pada suatu (1) tempat, (2) bangunan, (3) daerah, dan (4) benda. Sementara itu, pada makna kultural menggambarkan pola pemikiran masyarakat untuk menyatakan (1) konservasi alam, (2) pelestarian sejarah, (3) sarana spiritual, (4) penghormatan tokoh masyarakat, dan (5) mitos.
Downloads
References
Apsari, R. W., Billah, E. N., & Insan, N. (2020). Dampak Covid-19 terhadap Pengelolaan Agrowisata Perkebunan Teh Sirah Kencong Kabupaten Blitar sebagai Obyek Wisata Berkelanjutan. EDUTOURISM Journal Of Tourism Research, 2(02), 61–72. https://doi.org/10.53050/ejtr.v2i02.139
Chaer, A. (2014). Linguistik Umum. Penerbit Rineka Cipta.
Edi Sedyawati, Hariani Santiko, Hasan Djafar, Ratnaesih Maulana, Wiwin Djuwita Sudjana Ramelan, C. A. (2015). Candi Indonesia: Seri Jawa: Indonesian-English. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.
Fatehah, N. (2010). ( Kajian Etnolinguistik ). Jurnal Bahasa Dan Sastra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 9(2).
Fitrahayunitisna. (2019). Kesadaran Ekologi Dalam Mitos Di Telaga Rambut Monte Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Jurnal Studi Budaya Nusantara, 3(1), 40–51.
Foley, W. A. (2001). Anthropological Linguistics: An Introduction. Blacwell Publishers.
Indonesia, P. N. R. (2014). Candi Penataran. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. https://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_panataran_27
Jannah, A. Z. (2020). Bentuk dan Makna pada Penamaan Selametan Masyarakat Jawa: Kajian Linguistik Antropologi. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7(1), 76–88. https://doi.org/10.15408/dialektika.v7i1.13722
KBBI Daring. (2016a). bukit. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa2. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/bukit
KBBI Daring. (2016b). candi. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/candi
KBBI Daring. (2016c). dandang. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa2. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/dandang
KBBI Daring. (2016d). ember. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/ember
KBBI Daring. (2016e). gua. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/gua
KBBI Daring. (2016f). kedung. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kedung
KBBI Daring. (2016g). pertapaan. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pertapaan
KBBI Daring. (2016h). prasasti. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/prasasti
KBBI Daring. (2016i). situs. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/situs
KBBI Daring. (2016j). umbul. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/umbul
Kristiawan, A. P. (2021). Pengembangan Wisata Berbasis Cagar Budaya di Kompleks Percandian Penataran Kabupaten Blitar. Jurnal ALTASIA, 3(2), 67–76.
Maslahah, W., & Rofiah, L. (2019). Pengembangan Bahan Ajar (Modul) Sejarah Indonesia Berbasis Candi-Candi di Blitar untuk Meningkatkan Kesadaran Sejarah. Agastya: Jurnal Sejarah Dan Pembelajarannya, 9(1), 32. https://doi.org/10.25273/ajsp.v9i1.3418
Nardiati, S. (2007). Struktur Frasa Nominal Pada Wicara Pernikahan Jawa. Balai Bahasa Yogyakarta.
Nurnaningsih. (2019). Kotamadya Surakarta ( Sebuah Kajian Etnolinguistik ) the Local Wisdom of Javanese Language in ” Tingkeban ” Tradition in Kelurahan Laweyan Kotamadya Surakarta ( an Etnolinguistic Study ). 1, 81–95.
Oktavianti, I. N. (2013). Leksikon Tempat Tinggal dalam Bahasa Indonesia: Kajian Etnolinguistik. In K. Saddhono, P. Carey, N. Yusoff, T. Mckinnon, & H. Katsuhiko (Eds.), Pengembangan Peran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Mewujudkan Generasi Berkarakter. hograrn Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan llmu Pendidikan Universiras Sebelas Maret.
Pramesti, D. (2021). Makna Leksikal Dan Makna Kultural Istilah Dalam Tradisi Ngarot Di Kecamatan Lelea, Indramayu. KODE: Jurnal Bahasa, 10(1), 128–137.
Rahayu, S. (2018). Istilah-Istilah Penamaan Tempat Wisata di Kabupaten Karanganyar: Kajian Etnolinguistik. Sutasoma: Journal of Javanese Literature, 6(1), 1–8.
Ramaniyar, E. (2017). Etnolinguistik Penamaan Peralatan Rumah Tangga Tradisional Pada Bahasa Belangin Kalimantan Barat. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Santosa, M. P. S. A. (2020). Analisis Penamaan Kedai Kopi Di Surabaya: Kajian Etnolinguistik. KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa Dan Sastra, 3(2), 386–399. https://doi.org/10.24176/kredo.v3i2.4788
Segara, N. B. (2017). Kajian Nilai Pada Toponimi Di Wilayah Kota Cirebon Sebagai Potensi Sumber Belajar Geografi. Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan Dan Profesi Kegeografian, 14(1), 54–67. https://doi.org/10.15294/jg.v14i1.9777
Sugianto, A. (2017). Etnolinguistik Teori dan Praktik (S. H. Nata (ed.)). CV. Nata Karya.
Wardoyo, C., & Sulaeman, A. (2017). Etnolinguistik Pada Penamaan Nama-Nama Bangunan di Keraton Yogyakarta. Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam, 14(1), 55–76. https://doi.org/10.15575/al-tsaqafa.v14i1.1791
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.