REPRESENTASI ROMANTISME DALAM LIRIK LAGU JATUH SUKA KARYA TULUS: SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
DOI:
https://doi.org/10.25134/tmqb6e94Kata Kunci:
Representasi romantisme, lirik lagu, semiotika Roland BarthesAbstrak
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana unsur romantisme dibangun dalam lirik lagu “Jatuh Suka” karya Tulus melalui analisis semiotika Roland Barthes yang mencakup tiga lapisan makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Kajian ini berangkat dari maraknya ekspresi emosi yang lebih jujur dan terbuka di budaya populer Indonesia, sementara sebagian besar penelitian terdahulu hanya menelaah tema romansa secara umum tanpa menyoroti detail linguistik yang membentuk pengalaman afektif secara spesifik. Untuk menjembatani kekosongan tersebut, penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik simak dan catat guna mengidentifikasi unsur-unsur kebahasaan yang mengandung muatan emosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level denotatif, lirik menggambarkan tahap awal jatuh cinta melalui respons sensorik, rasa gugup, dan keinginan untuk mendekat. Pada tahap konotatif, lirik menyusun nilai romantisme yang berfokus pada keterusterangan perasaan, kerentanan, serta kesantunan emosional. Pada level mitos, lirik menampilkan ideologi romantisme modern yang menempatkan pesona alami dan keberanian mengungkapkan perasaan sebagai sesuatu yang lumrah dan patut dihargai. Temuan ini memperlihatkan bahwa musik populer tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan makna dan model emosional yang hidup dalam budaya generasi muda.
KATA KUNCI: Representasi romantisme, lirik lagu, semiotika Roland Barthes.
REPRESENTATION OF ROMANTICISM IN TULUS’S SONG LYRICS JATUH SUKA: A ROLAND BARTHES SEMIOTIC ANALYSIS
ABSTRACT: This research aims to reveal how romantic elements are constructed in Tulus’s song “Jatuh Suka” through Roland Barthes’ semiotic analysis, which examines the layers of meaning at the levels of denotation, connotation, and myth. The study is grounded in the rise of sincere, openly expressed emotions in Indonesian popular culture. At the same time, previous works mostly discuss romance in a general sense, without exploring the linguistic details that shape specific affective experiences. To address this gap, a descriptive qualitative method was applied, using close reading and note-taking techniques to identify linguistic units carrying emotional significance. The findings demonstrate that, at the denotative level, the lyrics depict the initial phase of falling in love through sensory reactions, nervousness, and the desire for closeness. At the connotative level, the lyrics construct romantic values characterized by honesty, vulnerability, and emotional politeness. At the myth stage, the lyrics present a modern romantic ideology that frames natural charm and the courage to express feelings as normal and socially appreciated. These results indicate that popular music functions not merely as entertainment but also as a cultural space where emotional meanings and romantic models are shaped for contemporary young audiences.
KEYWORDS: Representation of Romanticism; song lyrics; Roland Barthes semiotics
Unduhan
Referensi
Ali, R., & Widiastuti, S. (2022). Peran rangsangan sensorik dalam ketertarikan interpersonal: Perspektif psikologi sosial. Jakarta: Prenadamedia Group.
Anggraini, D. (2021). Imajinasi dan harapan romantik pada generasi muda: Kajian psikologi dan budaya populer. Yogyakarta: Deepublish.
Hidayat, T. (2021). Kegugupan dan kejujuran afektif dalam lirik lagu pop Indonesia. Jurnal Musikologi, 8(3), 67–82.
Hosea, M. (2022). Kerentanan emosional dalam musik populer Indonesia: Studi semiotika. Jurnal Kajian Budaya, 12(1), 55–72.
Latif, A. (2024). Rangsangan sensorik dan keterikatan emosional: Kajian kontemporer. Bandung: Alfabeta.
Putra, D. (2023). Daya tarik alami dan representasi cinta dalam musik populer Indonesia. Jurnal Musik dan Budaya Pop, 6(1), 77–91.
Rahmawati, L. (2023). Kesantunan dalam relasi emosional: Perspektif budaya pop kontemporer. Jurnal Psikologi Budaya, 9(2), 88–102.
Suryani, P. (2024). Cinta dan pengalaman transendental dalam musik pop Indonesia. Jurnal Seni & Emosi, 11(1), 23–40.
Wahyudi, H. (2022). Repetisi lirik dan penguatan simbolik dalam musik Indonesia. Jurnal Kajian Musik, 7(2), 51–66.
Yuliana, R. (2022). Imajinasi, harapan, dan afeksi: Analisis budaya pop generasi muda Indonesia. Jurnal Psikologi & Budaya, 10(3), 119–135.
Mahsun. (2021). Metode penelitian bahasa: Tahapan strategi, metode, dan tekniknya. Rajawali Pers.
Priadana, M. S., & Sunarsi, D. (2021). Analisis penerapan metode kualitatif dalam penelitian sosial dan humaniora. Jurnal Ilmiah Manajemen, 9(1), 1–7.
Andika, R. (2021). Representasi kesedihan dalam lagu “Hati-Hati di Jalan” Tulus: Analisis semiotika. Jurnal Kajian Musik dan Budaya, 5(1), 44–58.
Anggoro, B. (2025). Tekanan representasi diri di media sosial dan pembentukan citra digital. Jurnal Komunikasi Remaja, 4(2), 120–135.
Cahyani, L. (2023). Musik sebagai ekspresi emosional generasi digital. Jurnal Psikologi Media, 7(2), 101–114.
Fitri, A., & Roselani, M. (2022). Makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam lirik lagu populer Indonesia: Kajian semiotika Barthes. Jurnal Bahasa dan Makna, 9(1), 55–67.
Kuntanto, R. (2024). Representasi cinta dalam musik populer Indonesia. Jurnal Seni dan Budaya Kontemporer, 11(2), 87–99.
Nugroho, D. (2025). Wacana cinta maskulin dalam lagu “Lantas” Juicy Luicy: Kajian semiotika budaya. Jurnal Wacana Musik Populer, 3(1), 40–54.
Paramitha, S., & Kencana, P. (2025). Ekspresi emosional remaja dalam ruang digital: Studi fenomenologi akun kedua di media sosial. Jurnal Sosiologi Digital, 6(1), 77–93.
Putri, D., & Wibowo, T. (2023). Narasi luka emosional dalam karya musik kontemporer: Analisis semiotika modern. Jurnal Humaniora Kontemporer, 9(3), 144–157.
Rahmawati, F. (2022). Makna cinta stabil dalam lagu “Sisa Rasa” Mahalini: Kajian semiotika Barthes. Jurnal Ilmu Bahasa dan Seni, 8(2), 99–114.
Ratnaduhita, A., Riyanto, B., & Khusyairi, M. (2025). Pembacaan denotasi–konotasi dalam penelitian semiotika musik Indonesia. Jurnal Kajian Budaya Indonesia, 12(1), 66–82.
Saputra, A., Firdaus, L., Riswan, D., & Reza, M. (2025). Budaya digital dan perubahan nilai emosional generasi muda Indonesia. Jurnal Komunikasi Digital, 10(1), 1–18.
Saputra, A., et al. (2025). Identitas remaja di media sosial dan perkembangan ekspresi diri. Jurnal Media dan Remaja, 5(2), 55–72.
Sari, L. (2024). Penerapan semiotika Barthes dalam kajian media populer Indonesia. Jurnal Kajian Media, 8(1), 30–45.
Sari, N., & Hapsari, T. (2024). Representasi kepedihan romantis dalam lagu “Komang” Raim Laode: Analisis semiotika Barthes. Jurnal Musik Nusantara, 4(1), 70–85.
Septiana, R. (2024). Representasi relasi romantis dalam lirik lagu Indonesia: Tinjauan semiotika modern. Jurnal Bahasa dan Citra, 7(2), 112–129.
Wulandari, S. (2025). Metafora sensorik dan citraan emosional dalam lirik lagu Indonesia kontemporer. Jurnal Stilistika Modern, 6(1), 95–110.
Yuliana, F. (2022). Transformasi ekspresi cinta dalam budaya populer Indonesia. Jurnal Komunikasi Budaya, 9(2), 45–59.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Raihan Naufal Putra Susanto, Nina Queena Hadi Putri (Penulis)

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.